SEJARAH PEMIKIRAN MUSLIM TENTANG EKONOMI

Posted: 03/22/2011 in ekonomi islam

Perkembangan sejarah pemikir muslim dibidang ekonomi dipengaruhi oleh waktu dan tempat dimana pelaku ekonomi tinggal. Pemikir ekonomi di masa Yunani, Persia, Islam dan Barat memilik perbedan waktu dan tempat. Yunani pada tahun 93 SM dan Persia  3209, Islam pada periode, sedangkan Barat periode. Di setiap periode memiliki karakter kehidupan sendiri yang berbeda dengan satu dengan lainya. Perilaku ekonomi yang lebih terbatas pada perilaku manusia untuk melakukan transaksi dalam memenuhi kebutuhan rumah tangan.

Setiap pemikiran dipengaruhi oleh waktu dan sejarah di saat hidunya, dimana  kemungkinan pengaruh

waktu dan tempat akan mempengarui pemikiran pelaku ekonomi. Dampak dari usaha memenuhi kebutuhan kehidupan, pelaku ekonomi menyederhanakan problem dan dengan mengunakan batasa atau asummsi.

perdagangan.Di yunani, pelaku  Banyak ekonom Muslim lahir di masa dinasti Abbasiyah dibanding di masa khulafa’ al-rashidun ataupun di masa dinasti Ummayah.

Ada beberapa keadaan yang mengakibatkan periode khulafa’ al-rashidun (632-661) belum banyak ekonom lahir, diantaranya adalah (1) Al Quran dan al Hadist menjadi sumber utama dalam menjalankan kehidupan  masyarakat, disamping itu  masalah yang dihadapi masyarakat lebih dominan dengan persoalan social-politik. (2) Dominasi kebijakan lebih dipengaruhi sikap pemimpin sebagai representasi penganti Rasulullah SAW. Hal ini menjadikan keputusan khalifah menjadi rujukan dalam melakukan kegiatan  dalam bidang kemasyarakatan. (3) Kapasitas keilmuwan setiap khalifah tidak sama, periode kepemimpinan khalifah relatif berbeda dan akhir kekuasaannya selalu berakhir pada tragedy politik;. kekhalifahan Abu Bakar berlangsung selama 2 tahun, 3 bulan, 11 hari. Umar bin Khattab memegang kekhalifahan selama 10 tahun, 6 bulan, 5 hari. Usman bin Affan memimpin selama 12 tahun kurang 12 hari, dan Ali bin Abi Thalib memerintah selam 5 tahun 3 bulan (Ahmad, 2000:12). (4) Belum tingginya pergesekan pemikiran dengan mainstream keilmuwan Yunani dan Persia, karena penguasaan Yunani dan Persia belum sampai para proses untuk melakukan assimilasi keilmuwan (lihat Hodgson, 1999:287).

Sedangkan belum banyaknya pemikir Muslim di bidang ekonomi di masa dinasti Ummayah disebabkan antara lain; (1) Kesibukan pemimpin dalam melakukan perluasan wilayah baru yang cukup menyita tenaga dan waktu. (2) Sistem pemerintahan yang cenderung Arab sentries, corak Arab sangat dominan dalam system birokrasi di masa dinasa Ummayah. Kaum non Arab—yang terdiri dari keturunan Persia—yang biasa disebut kaum mawali diperlakukan sebagai warga  negara kelas dua. Keadaan ini yang mempengaruhi dialektika antara birokrasi dan orang Persia, notabene sebagai orang yang lebih terpelajar kurang begitu baik. (3) Secara geografis Damaskus, ibu kota dinasti Ummayah mayoritas terdiri dari masyarakat Arab, sehingga jauh dari interaksi dunia luar, berbeda dengan Bagdad, ibu kota dinasti Abbasiyah,  yang berdekatan dengan Cteshipon, bekas ibu kota imperium Sassaniah, Persia (lihat Saefudin,2002:30-31).

Sedangkan kemajuan pemikiran Islam di masa dinasti Abbasiyah  disebabkan oleh; (1) Kontak antara Islam dan Persia menjadi jembatan berkembangnya sains dan filsafat karena secara budaya Persia banyak berperan dalam pengembangan tradisi keilmuwan Yunani. (2) Aktivitas penerjemahan literature-literatur Yunani ke dalam bahasa Arab demikian besar. Menurut Mehdi Nakosteen, gerakan penerjemahan dipengaruhi oleh gerakan penerjemahan sebelumnya yang dilakukan  pada masa kerajaan Sassaniah, yang berpusat di akademi Jundishapur. Akademi ini adalah pusat peterjemahan karya-kerya ilmu pengetahuan dan filsafat  Yunani serta Hindu ke dalam bahasa Pahlavi. Dari sekolah ini pula muncul beberapa terjemahan penting dari bahasa Sanskerta, Pahlavi dan Syria ke dalam bahasa Arab (Nakosteen, 1964:33). (3) Relatif tidak adanya pembukaan daerah kekuasaan dan pembrontakan-pembrontakan menyebabkan stabilitas pemerintahan terjamin  sehingga konsentrasi pemerintah untuk memajukan aspek-aspek intelektual  menemukan peluang. (4) Adanya peradaban  dan kebudayaan yang heterogen di Bagdad menimbulkan proses interaksi  antara satu kebudayaan dan kebudayaan lain; Arab, Yunani, Persia, dan Hindu yang memberi dampak dalam perkembangan intelektual. Bagdad juga di huni oleh sisa penduduk asli yaitu bangsa Kildani dan Suryani. (5) Bagdad dipandang strategis dan menguntungkan karena dilalui sungai Tigris dan Eufrat (Saefuddin, 2002:149).  Barang-barang  dapat keluar masuk melalui sungai tersebut dengan mengunakan perahu sehingga menjadi Bagdad menjadi satelit ekonomi yang ramai dengan komoditas yang diperjualbelikan.

Munculnya pemikiran muslim tentang ekonomi

Ilmu ekonomi pada masa bani Ummayah ataupun bani Abbasiyah tentunya tidak sebagaimana kenal sekarang. Hal ini dikarenakan (1) Ekonomi merupakan bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Islam sehingga pemikiran ekonomi dalam karya pemikir Muslim tersebut sulit dipisahkan dengan pemikiran sosial, politik dan kebudayaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya buku-buku yang ditulis pemikir Muslim yang menyatukan masalah ekonomi dengan masalah sosial dan politik. (2) Ekonom Muslim bukanlah pemikir yang hanya menkonsentrasikan hidupnya berpikir dengan meabstrasikan teori semata, tetapi apa yang dipikirkan merupakan akibat langsung dari dari pengalaman yang dilalui sebagai praktisi atau kedekatannya dengan masalah ekonomi. (3) Pemikir Muslim di bidang ekonomi dikenal sebagai ekonom karena memiliki karya yang terdokumentasi lewat karya-karya yang tertulis, atau murid yang mendokumentasikan karyanya. (4) Setiap pemikir muslim di bidang ekonomi mengungkapkan permasalahan ekonomi didasari latar belakang kehidupan masing-masing pemikir; tempat tinggal, keadaan negara, pekerjaan dan lain-lain—hal ini membawa kecenderungan untuk mempengaruhi cara berpikirnya.

Nejatullah Siddiqi (1992:4-10) menidentifikasi garis besar pemikiran muslim tentang ekonomi terdiri beberapa masalah:

Ibn Qayyim (1292-1350) mengakui adanya kepemilikan pribadi dan kebebasan dalam kegiatan ekonomi, tetapi dalam kendali norma dan nilai Islam. Namun demikian, walaupun kebebasan kepemilikan pribadi diakui, pemerintah dapat melakukan intervensi untuk kepentingan publik. (lihat Ghanzanfar dan Islahi; 2002:127) Demikian juga yang dikatakan Ibn Taimiyyah (1263-1328) pemerintah bisa melakukan intervensi terhadap kepemilikan pribadi  selama memenuhi kondisi bahwa apa yang dilakukan pemerintah demi memenuhi hajat hidup orang banyak (lihat Islahi, 1999:119).

Teori Harga

Ibn Taimiyyah  menganalisa bagaimana harga di atur oleh pasar melalui permintaan dan penawaran. Menurutnya  harga meningkat dikarenakan  berkurangnnya penawaran barang yang diperlukan dan tingginya  pendapatan masyarakat. Di samping itu Ibn Taimiyyah juga mendiskusikan mengenai monopoli dan monopolisasi membatasi penawaran barang dan jasa. Sedangkan Ibn Qayyim menyatakan selama harga cenderung merugikan masyarakat dikarenakan dampak dari ketidaksempurnaan pasar, distorsi dan monopoli maka pemerintah berhak turut campur dalam pasar. ( lihat  Ghanzanfar dan Islahi, 2002:53) .

Al-Ghazali (1058-1111) mendiskusikan uang dan fungsinya. Dia menganalisa dua fungsi penting uang yaitu sebagai media pertukaran (medium of exchange) dan standard nilai ( standard of value). (lihat Sadeq, 1999: 88). Di lain pihak, ide penting yang di kenal dengan the Gresham’s law di diskusikan sebelumnya oleh Taqiuddin Ahmad al-Maqrizi. Hukum tersebut menyatakan bahwa the bad money drives away the good money from market, ketika masyarakat cenderung untuk mengunakan uang jelek untuk transaksi  and menyimpang uang baik, dan selanjutnya uang baik akan hilang di pasar.

Abu Yusuf (731-798) di dalam public expenditure, Dia menyediakan petunjuk  untuk mengembangkan belanja di  proyek irigasi, system transportasi, dan lain sebagainya. Di dalam hal ini, dia menekankan perilaku yang didasarkan atas Islamic moral code di dalam pemerintahan  yang berhubungan dengan keuangan publik. Pemikiran lain seperti Abu Ubaid (838) dan Mawardi (1058) mendiskusikan juga mengenai sumber pendapatan Negara, norma-norma di dalam mengumpulkan dan nilai-nilai Islam dalam membelanjakannya. Sementara itu Abu Bakr al Tartusi mengungkapkan prinsip-prinsip dalam pembayaran pajak, pajak seharusnya dikenakan pada surplus pendapatan setelah habis dipakai untuk kebutuhan pokok, ketika tidak surplus tidak di kenai pajak. (Siddiqi, 1992:7).

Ekonomi Pembangunan

Ibn Taimiyyah (1263-1328) menekankan bahwa setia orang harus diberi jaminan untuk hidup di atas standar hidup minimum agar dapat memenuhi kewajibannya di dalam keluarga dan masyarakat. Memenuhi kebutuhan dasar bagi muslim adalah fardhu kifayah, dan ini adalah tanggung jawab pemerintah. (lihat Islahi, 1999: 119) Lebih jelas lagi mengenai kebutuhan dasar sebagaimana diungkapkan oleh Ibn Hazm (994-1064) adalah makanan, minuman, baju dan pemukiman, dan Dia mengatakan pemerintah  bertanggungjawab untuk menyediakan kebutuhan dasar ini. Sementara itu Shah WaliAllah (1703-1762) menganalisa effek buruk  ketidakadilan dalam  distribusi pendapatan. Bagi dia pendapatan yang terkonsentrasi cenderung akan menyebabkan hidup bermewah-mewah di dalam masyarakat dan ini akan menyebabkan tidak optimalisasi dalam mengelola faktor produksi dan akahirnya peningkatkan. kemiskinan. (lihat Siddiqi, 1992:8)

Al Ghazali mengungkapkan keterkaitan tenaga kerja dan pasar sebagaimana diungkapkan dalam ihya ulumuddin, “Dapat saja petani hidup di mana alat-alat pertanian tidak tersedia, sebaliknya pandai besi dan tukang kayu hidup di mana lahan pertanian tidak ada. Namun secara alami, mereka akan saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Dapat pula terjadi tukang kayu membutuhkan makan, tetapi petani tidak membutuhkan alat-alat tersebut atau sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong untuk menyediakan tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak dan tempat penyimpanan hasil sesuai dengan kebutuhan masing-masing sehingga terbentuklah pasar. Petani tukang kayu dan pandai besi yang tidak dapat langsung melakukan barter juga terdorong pergi ke pasar ini. Bila di pasar juga tidak ditemukan orang yang melakukan barter, ia akan menjual pada pedagang dengan harga yang relatif murah untuk kemudian disimpan sebagian persediaan. Pedagang kemudian menjauhnya dengan suatu tingkat keuntungan. Hal ini berlaku untuk setiap jenis barang”.

Perkembangan pemikiran Muslim tentang ekonomi ke Eropa

Perkembangan pengetahuan dunia Islam mempengaruhi kemajuan pemikiran di dunia Eropa. Adapun pengaruh ke Eropa ini melalui beberapa jalan sebagai berikut :

1.  Travels.

Selama abad 11 dan awal abad 12 beberapa sarjana Eropa Latin-Skolastik  melakukan perjalanan dibeberapa negara Arab untuk belajar bahasa arab guna mendapatkan pengetahuan guna dibawa ke Eropa. Selama periode tersebut  banyak pelajar dari Itali, Spanyol dan Prancis Selatan  menghadiri kajian-kajian muslim untuk belajar matematika, filsafat, kedokteran, kosmografi, dan kajian yang lain agar bisa mengajar di universitas-universitas Barat—yang dibangun setelah adanya kajian-kajian di dunia Muslim (Sharif, 1966:1367) .

2.  Penerjemahan.

Dari abad 11 sampai abad 14, terjadi penerjemahan besar-besar dari bahasa arab ke Latin, tidak hanya tulisan Arab, tetapi dari arab ke Hebrew. Penerjemahan ini dilakukan di Spanyol, Itali dan Prancis. Beberapa penerjemah terkemuka dikenal dari sejarah abad pertengahan seperti Adelard of Bath, Constantine the African, Michael Sct, Herman the German, Dominic Gundisilavi, John of Seville, Plato of Trivoli, William of Luna, Gerard of Cremona, and Aflred of Sareshel (Durant,  1950:910) Menurut  Crombie selama  14 dan 15 abad , Eropa skolastik  juga tidak langsung di pengaruhi oleh warisan pemikir Eropa, Mereka masih mengunakan pengetahuan pemikir Muslim (lihat Crombie, 1963:30)

3.  Tradisi Lisan

Menurut Chejne bahwa khusus untuk tradisi lisan adalah factor penting, dan ini dibuktikan dengan adanya hubungan  literature antara Arab dan Barat.. Menurut  Chejne transmisi lisan terjadi  dalam waktu yang lama dan hubungan tetap antara Muslim dan Kristen dengan mengunakan  bilingual dalam bahasa Spanyol.  Abad 8 dan lebih saling meniru dan melakukan interaksi cultural yang  berkesinambungan (lihat Chejne, 1980:111)

Beberapa  penulis menunjukkan bahwa perdagangan telah membawa dunia Arab melalui jalur Rusia menuju Polandia, Baltik, Skadinavia, Eropa tengah-Barat dan juga Iceland.  Melalui perdagangan menghasilkan penyebaran  lembaga ekonomi, Uang Arab di gunakan di Kerajaan Kristen di Utara, dimana  empat ratus  tahun tidak ada koin sebagaimana Arab atau Prancis (lihat Hitti, 1943:144)

Diffusion dan Institutions

Udovich melaporkan penemuannya di abad 15, bentuk kontrak kepercayaan antara Venetian dan Pedagang Arab di Alexandria. Kemudian kontrak kepercayaan dan kontrak partnership yang lain adalah asli dari dunia Islam dan akhirnya menyebar di Eropa Latin melalui kontak dengan sarjana muslim dan ahli hukum. Munculnya berbagai bentuk instrument dan kelembagaan mefasilitasi  pengembangan perniagaan dan perdagangan di Eropa, seperti bills of exchange (siftajah), letter of credit (hawala), specialized trading centres (funduq) dan privat bank (ma’una) (lihat Kramers, 1934:102)

Perang Salib

Perang salib yang terjadi pada 1092 sampai 1292 merupakan waktu yang lama yang bisa di gunakan Eropa untuk mendapatkan pengetahuan dari dunia Islam. Apapun motivasinya, Menurut Ferruollo, hal yang penting yang perlu diperhatikan adalah mereka telah membantu dalam membentuk sikap Eropa, perasaan dan nilai-nilai yang di pegang orang Eropa (lihat Ferruollo, 1984: 42)

Mengapa orang Eropa tidak mengakui bahwa ilmu pengatahuan Islam cukup besar mempengarui perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa, karena (1) Eropa di abad pertengahan sangat bermusuhan dengan dunia Islam. Hal ini sangat dilebih-lebihkan untuk menegaskan bahwa perang salib menjadi bagian dari hal yang tidak terpisahkan dari masalah hidup orang Eropa sampai saat ini. (Ghanzanfar, 2002:153); dan (2) Sarjana di masa itu meminjam tanpa memberitahu adalah suatu praktik yang umum; antara Latin Scholastik dan Arab, dan untuk property right  di abad 12 belum di akui. Dalam hal ini, dikenal pendeta era Spanyol ordo Domician, Raymund Martin—banyak mempengaruhi St Thomas Aquinas—, bukunya Pugio Fidei bersumber dari bukunya al Ghazali; Tahafut al-Falasifa, Maqasid ul-Falasifa, al-Munqid, Mishkat ul-Anwar, dan Ihya Ulumuddin, tanpa menyebutkan referensinya (lihat Sharif, 1966: 1361))

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan (1) Jumlah pemikir Muslim di masing-masing masa pemerintahan khulafa’ al-rashidun, bani Ummayah dan bani Abbasyiah membuktikan bahwa periode kekuasan suatu kepemimpinan mempengaruhi tumbuh suburnya pemikir-pemikir Muslim. (2) Perkembangan pemikiran ekonomi adalah keniscayaan sejarah dimana pemikir Muslim dikondisikan untuk merumuskan teori yang digunakan untuk menyelesaikan problem sosial-ekonomi di masanya. (3) Pengaruh pemikiran sebelum Islam (Yunani dan Persia) turut membangun kerangka berpikirnya pemikir Muslim dalam merumuskan masalah-masalah ekonomi demikian juga bagi pemikir Eropa mendapatkan pengaruh dari Islam dalam meidentifikasi masalah dalam kehidupan ekonomi masyarakat Eropa; dan (4) adalah sunnatullah bila mana kita juga mengunakan pemikiran ekonom Barat untuk menyelesaikan masalah ekonomi yang umat Islam hadapi, namun harus sesuai dengan semangat Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s